Selasa, 10 Januari 2012

Menggemukkan Badan Ala Saya

Sumber gambar
Umur saya sudah 20 tahun. Itu artinya 20 tahun pula saya KURUS. Memang sejak lahir saya kurus. Terlebih lagi faktor genetik yang seakan mengharuskan saya kurus. Walaupun tidak selamanya faktor itu merupakan satu-satunya penentu sih.

Sekarang saya mau menjadikan diri saya
tidak kurus!

Tidak kurus lho ya, bukan gemuk. Setidaknya saya menginginkan teman-teman saya untuk tidak berkata 'kurus' kepada saya (lagi). Selain itu, saya juga tidak mau orang-orang di sekitar saya merasa kasihan kepada saya karena menganggap saya seperti triplek berjalan. Alasan terakhir, saya ingin Bapak-Ibu merasa legowo dengan melihat saya tidak kurus! :D

Berdasarkan situs ini, BMI saya adalah 17,8. Padahal BMI normal itu berada pada kisaran angka 18,5-24,9. Hal ini berarti bahwa saya harus menambah minimal 0,7 untuk me-normal-kan BMI saya. Sebanding dengan hal ini, berat badan yang harus saya capai minimal adalah 42 kg. Semangat! Haha.

Nah, ini dia cara-cara yang akan saya lakukan untuk menaklukkan kekurusan.

Senin, 02 Januari 2012

Mengingat Bocah

Kejadian ini terjadi sekitar tiga setengah tahun yang lalu. Hal itu berarti bahwa saya masih duduk di bangku SMA, mungkin kelas 2 atau mungkin juga kelas 3.

Bagaimana Ceritanya?
Di sekolah saya, ada sebuah kegiatan yang diadakan setiap tahun untuk mengisi salah satu waktu liburan. Maklum, namanya juga pesantren yang hanya memperbolehkan santri-santrinya  pulang kampung ketika libur lebaran dan libur ujian akhir. Jadi kegiatan ini merupakan salah satu solusi untuk mencegah para santri 'keluar' dari pesantren. It is outbond.

Waktu itu, saya adalah salah satu panitia yang turut serta melakukan 'pos survey' sebelum hari H. Saya menggunakan istilah pos survey karena kami bertugas menentukan titik-titik pemberhentian (POS) di lokasi sekitar jalur outbond. (Jalur yang digunakan sudah ditentukan  beberapa panitia yang survey sebelumnya)

Pagi-pagi sekali kami bersiap dan mulai menelusuri jalan-jalan kecil di sekitar pesantren.  Berjalan dengan santai, mulai memperhatikan sekitar, dan menimbang beberapa hal. Tempat ini bagus, tapi permainan macam apa yang bisa dilakukan di sini? - Waaah, tempat ini cocok sekali untuk bermain 'jaring laba-laba' - Sudah sampai sini tapi tidak ada lokasi yang bagus!  - Jarak antarpos jangan terlalu jauuh - Bla, bla, bla, ... Akan tetapi, perjalanan sudah membuahkan hasil: kami menemukan tiga pos dari jumlah total delapan pos (ini sudah ples sama pos bayangan).

Sumber gambar


Sampai akhirnya,

Minggu, 01 Januari 2012

(Meja) Mimpi


Berceloteh tentang mimpi takkan ada habisnya. Mimpi yang sudah saya sadari saja bejibun banyaknya, apalagi mimpi yang belum saya sadari: benar-benar di atas awang. Bersyukur saya masih diberi kemampuan untuk memahami apa yang saya impikan. Hal ini menjadikan gerakan tubuh saya lebih bermanfaat, setidaknya saya tahu apa yang harus saya kerjakan sekarang-besok-lusa-atau bahkan bulan depan.

Tiba-tiba saya teringat dengan seorang sahabat bijak saya. Dia pernah berkata bahwa dirinya tidak pernah kebingungan dengan apa yang harus dilakukan besok pagi. Dan dia selalu menepati apa yang sudah direncanakannya. Mungkin mirip seperti kalimat berikut ini,
"Saya selalu mengevaluasi diri setiap sore. Apa yang sudah saya lakukan hari ini, apa yang harus saya selesaikan besok, dan apa saja urutan pekerjaannya,"
(Samira Asemanfar, 2011)
Bahkan, teman saya itu juga sudah dapat memperkirakan apa yang akan dilakukannya satu bulan ke depan! Benar-benar terencana bukan? :)

Akan tetapi, gak selamanya juga kita bisa menepati perencanaan itu. Sekilas mari kita tengok status facebook saya beberapa waktu lalu:



Kembali ke mimpi,

Saya pernah beberapa kali menuliskan sederet mimpi saya, termasuk di meja belajar yang penuh dengan mimpi-mimpi saya. Saya beri nama Kolase Mimpi bagi meja sederhana itu. Meja belajar yang paling saya cintai bukan karena bentuknya, melainkan filosofinya. Ini dia si Meja Kolase Mimpi.

Silakan klik untuk diperbesar :D


Mari dirunut satu persatu.


Sabtu, 12 November 2011

Melirik Sebab Ber-Gowes

Sepeda itu menyenangkan, mengasyikkan! :)

Sepeda saya sampai Parangtritis! :D 
Pertama-tama, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya buat nona Letdie dan Ariny yang sudah mengenalkan sepeda (kembali) kepada saya. Berdasarkan cerita hidup saya, terakhir saya menggunakan sepeda secara biasa adalah jaman SD dulu. Jaman SMP sudah tidak pernah lagi yang namanya pegang, apalagi naik, sepeda. Pernah sih, tapi jatuh. Jadi saya sudah merasa aras-arasen mengendarai sepeda untuk hidup saya selanjutnya. #lebay :D
Beneran, yakin, swear!

Pendirian yang mudah goyah itu runtuh sejak saya pindah kos. Bagaimana tidak? Saya tidak mempunyai kendaraan dan jarak kos dengan kampus lumayan cukup membuat kaki ini capek. Oleh sebab ituuu, berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang matang dan rayuan-rayuan gombal mereka, tibalah saatnya saya memutuskan untuk MEMBELI SEPEDA.

Saya membeli sepeda itu kalau tidak salah ingat, September 2010. Itu tandanya dia sudah satu tahun bersama saya! Tidak terasa... Ternyata, aku makin cinta, cinta sepeda saya, sepeda  saya yang kucintaa.. (efek iklan Krim Eko*o*i)

Apa yang membuat saya semakin mencintainya?



Yang mana WATAK-mu?


Menurut Gray (2004:60) dalam buku Children Are from Heaven:
Ada empat watak yang berbeda. Adakalanya salah satu watak itu lebih menonjol daripada yang lain. Hal ini bukan berarti pemilik watak itu lebih baik daripada yang tidak memiliki watak yang menonjol dalam dirinya. Karena sesungguhnya tidak ada watak yang lebih baik atau lebih buruk daripada lainnya, hannya BERBEDA.
Keempat watak itu adalah sebagai berikut.
a. Seorang yang sensitif butuh untuk didengar dan dimengerti
b. Seorang yang responsif butuh pengalihan perhatian dan bimbingan
c. Seorang yang reseptif butuh upacara dan irama
d. Seorang yang aktif butuh persiapan dan kerangka


Jumat, 11 November 2011

Don't Disturb My Passion

Postingan ini sebagai akibat dari baca buku macam beginian nih:


Saya senang dengan buku macam itu. Jadi, kalau ada yang pengen memberikan saya sebuah buku, boleh tuh buku-buku semacam motivasi hidup begituan. Hehe, kalau ada.. Kalau gak ada yaa, pasrah atau beli sendiri aja deh. :D

Bicara tentang Passion, apa yang kalian tau?




Sabtu, 27 Agustus 2011

Kompleks #2


Sudah baca postingan saya sebelumnya? Kalau belum, silakan cek! :)

Klik postingan di bawah ini, dengan judul Kompleks #1 atau cukup klik di sini.




Kompleks #1

Lama sekali rasanya saya tak memencet tombol keyboard untuk menuliskan uneg-uneg saya. Tentunya sudah banyak sekali yang terlewatkan.

Dari mulai kisah tentang kehidupan saya di Jogja, Pare, hingga di kampung halaman.
Padahal banyak kejadian-kejadian heboh yang terjadi.
Jadi merasa rugi karena sudah membiarkannya pupus terbawa arus. Dan saat ini saya merasa berhutang pada diri saya, untuk segera menuangkannya menjadi paragraf-paragraf terbaik sehingga dapat menjadi dongeng bagi putraku kelak. #eeaa :D
Akan tetapi, lagi-lagi saya dihadang oleh pikiran saya sendiri. Bingung harus memulai dengan kata dari bagian yang mana..

Menimbang, memikirkan, dan akhirnya saya putuskan untuk menuliskan kisah saya secara runtut, tentu saja hanya yang saya anggap istimewa. Nah, kalau saya bilang 'secara runtut', maka kisah istimewa (bagi saya) ini akan saya mulai dari pengalaman saya di Jogja, Pare, dan terakhir Pekalongan. Bismillah, semoga bisa diangkat hikmahnya.
***





Rabu, 20 Juli 2011

-erang

Rapuh. Rembulan tanpa cahaya. Mentari mendingin.
Rintik berangin tak disambut awan. Pohon merajuk rumah bergoyang.
Hening menuntut keramaian. Tanpa sambutan.
Bertotok palu, batu menata diri.
Sedemikianlah.


Kediri, 20 Juli 2011

Sabtu, 09 Juli 2011

Care!


Subhanallah, percakapan sore kemarin. Antara saya dan Bapak. Tidak sengaja, sebenarnya. Tiba-tiba saja Bapak bercerita tentang itu. Memang pada mulanya kami sedang berbincang tentang tamu yang datang ke rumah kami siang kemaren. Tidak perlu saya ceritakan panjang lebar tentang tamu itu, ya. Intinya, tamu itu adalah orang yang sedikit kurang waras. Lama bercerita tentang itu, hingga sampailah pada percakapan yang saya maksud. Ohya, ada nama-nama yang saya sensor, sebagai tanda hormat saya menjaga identitas pribadi si pemilik nama. :)

ini bukan gambar tamunya ya :D
... 
BapakEh, Ya. Wingi pas Bapak ning SMA *tiiit* ketemu karo Pak C. Ndeknen cerita karo Bapak. Jarene, Pak C tau ngongkon bojone mbungkusne sego jumlahe 4. Pas bungkusan segone wes dadi, Pak C ngubengi kota Pekalongan arep goleki wong edan. 
[Eh, Ya. Kemarin pas Bapak di SMA *tiit* ketemu sama Pak C. Dia cerita sama Bapak. Katanya, Pak C pernah nyuruh istrinya untuk membuat nasi bungkus 4 buah. Setelah bungkusan nasi itu jadi, Pak C keliling kota Pekalongan untuk mencari orang gila]